Jumat, 23 Maret 2012
(Hari Raya Nyepi)
Semalam, menyenangkn tapi sangat melelahkan. Pertama kalinya diajak nonton ogoh-ogoh di Pure Jagatnatha, sama si Bli Bravo. Ajakan yang menarik, karena selama ini hanya bisa melihat ogoh-ogoh di tv. Dua kali ke Bali tak sekalipun ada kesempatan buat lihat ogoh-ogoh. Lalu kuajaklah teman kos ku si Rosi sama Budi. Karena itu sesuatu yang menarik, jadi kuajaklah temanku dari Jepang , namanya Sota. Niatnya, mau ngajak dia aja, eh malah teman-teman satu kelas denger, terus minta ikutan juga. Ckckck, ..bagaimana ini, aku tak masalah dengan teman-temanku yang mau ikut, tapi, bagaimana dengan Bli, dia keberatan ngga ya aku ajak banyak teman begini. Karena Sota orang Jepang sendiri, biar dia ada teman sesama Jepang, aku ajak juga Sei. Hmm..memang, yang namanya orang asing, diajak liat sesuatu yang nampaknya menarik dan belum pernah dilihat, jadi penasaran. Dan akhirnya Sei mengajak teman-temannya yang lain, ngga cuma orang Jepang, plus ada orang Korea. Total 17 orang yang ikut. 7 orang asing, 10 orang Indonesia. Untunglah si Bli baik hati, dia tak masalah aku membawa teman seabrek. Padahal dia kan niatnya hanya berdua. Maaf ya Bli, hahahahaha……
Karena motor kurang, akhirnya Ajeng, Sei, Sou, dan Diana naik taksi. Awalnya aku udah takut kalau acara jalan-jalan ogoh-ogoh ini ngga jadi. Malam sebelum aku berangkat, aku dapat sms dri temenku, yang punya temen orang Bali, bilang kalau ngga ada ogoh-ogoh di Pure Jagatnatha. Adanya cuma di Prambanan dan itu udah lewat tadi siang. Wah, gawat iki, kalau semisal ogoh-ogohnya beneran ngga ad, gimana dong. Mau bilang apa coba sama temen-temenku, apalagi mereka yang orang asing, gimana njelasinnya?? Ku sms lah si Bli, aku pastikan lagi kalau beneran ada ogoh-ogoh di Pure Jagatnatha. Dia mengatakan ada, kalau sampai ngga ada, dia bakal nraktir aku dan temna-temanku makan. Ok, kalau Bli udah sampe bilang gitu, berarti kemungkinan besarnya ada.
Ouji Tuhan, sesampai di sana, ogoh-ogohnya memang ada. Di sana sudah ramai dipenuhi warga sekitar maupun warga luar yang ingin melihat prosesi ini. Sebelum ogoh-ogoh diarak keliling kampung, para umat Hindhu berdoa di dalam Pure. Hanya orang yang berpakaian adat Bali yang bisa masuk ke dalam pure. Aku dan teman-temanku menunggu di luar Pure. Tak lama sesudah itu, satu persatu ogoh-ogoh dikeluarkan. Ogoh-ogoh itu mulai diarak keliling kampung. Kami putuskan untuk menunggu di sini saja, menunggu sampai arak-arakan itu kembali, yang kemudian dilanjutkan prosesi pembakaran ogoh-ogoh itu. Aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu makna prosesi itu semua, tapi aku nangkepnya, jadi itu ogoh-ogoh merupakan simbol keburukan manusia. Kenapa dibakar, mungkin untuk membuang hal-hal yang burk, lalau datanglah kebaikan. Yah, mungkin begitu artinya, aku sendiri bukan orang Bali jadi ngga ngerti, hahaha
Sambil menunggu ogoh-ogoh itu kembali, kami makan. Aku, Monic, Bli, dan 3 orang Jepang makan di rumah makan Bu Komang, spesiasil masakan Bali. Ada rujak Bali, ayam betutu, dan yang paling menggiurkan adalah babi guling, hehehe…dan kebetulan si orang Jepang juga suka daging babi. Dan ternyata memang enak. Teman-teman yang tidak makan babi, makan di rumah makan seberang, makan ayam bakar dan kawan-kawannya.
Tidak lama sesudah makan, ogoh-ogohnya mulai datang. Kami langsung mencari tempat yang dekat pemabakaran supaya bisa melihat prosesi itu secara langsung. Tapi Ternyata, setelah diarak, jumlah orang yang datang makin banyak. Kami benar-benar berdesak-desakan. Puanas buanget, ga bisa nafas. Rasanya hampr sama dengan saat nonton Jogja Java Carnival, tapi ini penuhnya cuma di depan pure, kalau JJC kan sepanjang jalan malioboro. Tapi tetap saja, fiuh… hontou ni atsui.
Yeah, meskipun berdesak-desakan, acara ini cukup menarik, karena ini pertama kalinya juga untukku. Dan aku bersyukur teman-temankupun cukup senang melihatnya. Kalau kata si Sota sih, acara yang model begini juga ada di Jepang, namanya omokoshi.
Jalan-jalan yang menyenangkan. Jogja memang benar-benar istimewa. Ada banyak budaya asing di sini, tapi budaya Jogja sendiri masih tetap bisa bertahan. Luar biasa. Rasanya tidak ingin segera lulus, masih betah di Jogja,,,hehe…
Minggu depan jalan-jalan lagi bareng teman-teman kelas dan orang Jepang ke Borobudur!!!
Sungguh menyenangkan sekali kuliahku di semester terakhir ini, full of practice, hahahaha

Numpang foto depan ogoh-ogoh

Sei, Sou, Monic, Diana, dan aku
After dinner

Sota, aku, dan Rosi